Powered By Blogger

Kamis, 13 Oktober 2011

Terhipnotis Ice Cream !

Saat melihat papan reklame iklan es krim di pinggir jalan ketika perut kosong, membuat Anda ingin segera menyantap makanan lezat tersebut? Jika iya jawabannya, Anda mungkin telah terhipnotis. Lho?

Sebuah penelitian yang dilakukan UT Southwestern Medical Center, Amerika Serikat menemukan bahwa lemak dari beberapa makanan seperti burger dan es krim dapat mempengaruhi otak Anda seperti yang detikhot kutip dari foxnews, Kamis (24/9/2009).



Pada dasarnya, manusia akan berhenti makan ketika ia sudah merasa cukup. Namun jika memakan sesuatu yang enak, maka sulit untuk berhenti hingga perut sudah tidak mampu lagi menampungnya. Hal ini dikarenakan molekul lemak tersebut memicu otak untuk mengirim pesan ke sel-sel tubuh untuk mengabaikan sinyal hormon penekan selera makan. Hormon-hormon yang ditekan tersebut adalah leptin dan insulin.

Penelitian dilakukan kepada tikus percobaan dengan memberikan mereka berbagai injeksi lemak langsung ke otak, tiga kali sehari. Hasil yang spesifik terhadap para tikus percobaan. Para peneliti juga menemukan jenis lemak tertentu di daging sapi,mentega, keju, dan susu yang dapat 'menghipnotis' otak Anda agar tidak berhenti makan.


SUMBER 

Rabu, 05 Oktober 2011

ABABIL ? Sasaran CUCI OTAK!!

WARNING]Berkepribadian Labil, Sasaran Cuci Otak

Kompas.com — Ternyata bukan tanpa alasan jika organisasi Negara Islam Indonesia (NII) mengincar orang-orang muda untuk direkrut menjadi anggotanya. Kelompok orang muda tersebut ternyata lebih mudah dipengaruhi.
Orang-orang yang memiliki kepribadian labil, seperti orang yang frustrasi, berkepribadian tertutup, merasa terasing dengan lingkungannya, dan tidak punya sahabat, menurut cendekiawan Muslim Prof Dr Jalaluddin Rahmat, merupakan kelompok yang paling mudah diarahkan menjadi apa pun.
"Bisa dibilang, orang-orang labil itu adalah orang yang getting lost dalam hidupnya dan tidak punya teman untuk berbagi suka dan duka. Ketika mereka masuk dalam kelompok tertentu, seluruh hidup mereka diurusi, termasuk dalam urusan jodoh," katanya di sela-sela acara media edukasi mengenai stres dan depresi di Jakarta, Kamis (5/5/2011).
Senada dengan Jalal, dr Surjo Dharmono, ahli kedokteran jiwa dari FKUI/RSCM, mengatakan, orang yang berkepribadian labil lebih mudah dikenalkan pada ideologi baru.
"Orang yang labil biasanya juga lebih rentan mengalami gangguan jiwa, seperti rasa cemas, stres, atau depresi," katanya.
Orang yang punya kepribadian stabil, menurut Surjo, pada umumnya lebih tangguh. "Mereka punya mekanisme pertahanan yang baik sehingga cepat sadar jika masuk dalam lingkungan yang salah," katanya.
Selain kelompok orang muda, Jalaluddin berpendapat, orang-orang yang ingin mencari Tuhan juga diincar oleh kelompok-kelompok tertutup itu. "Orang-orang yang dengan tulus ingin mengenal Tuhan lebih dekat juga rentan dipengaruhi dan digiring pada sebuah ideologi baru," katanya.
Orang yang ingin mengenal Tuhan itu lebih mudah ditakut-takuti dan ditanamkan rasa bersalah. "Pemimpin agama yang gila bisa menularkan kegilaan kepada pengikutnya. Celakanya, anggota kelompoknya punya kepatuhan yang mutlak kepada pemimpinnya," paparnya.
Orang yang sudah terpengaruh ideologi baru itu kemudian diyakinkan bahwa mereka adalah orang pilihan dan harus menjalankan perintah "Tuhan".